SELF INJURY ?




Malam ini adalah malam yang sangat dingin, walaupun disini tidak pernah ada hujan ataupun badai salju, atau adanya berpuluh puluh ataupun beratus ratus AC yang menyala, tetapi malam ini terasa begitu dingin membuat badan menggigil,dingin disertai angin yang sangat kencang. Pohon-pohon yang besar maupun kecil bergoyang-goyang seakan tumbang diterpa angin. 

Di dekat salah satu pohon yang besar,mungkin sejenis pohon beringin, disana duduklah seorang gadis, gadis cantik degan kulitnya yang putih, dan wajahnya yang pucat tapi tidak mengurangi kecantikannya, rambut lurusnya sebahu, gadis itu bernama Glary. Raut wajahnya tidak enak di pandang, kusut, muram, dan tidak bersemangat.

Disitu dia duduk tenang tidak mempedulikan dinginnya malam itu, angin yang kencang dan pohon yang bagaikan ingin roboh, menindih tubuhnya yang mungil itu, tapi sepertinya pepohonan hanya ingin menggodanya agar gadis tersebut tidak berada di tempat yang (mungkin) sedang tidak bersahabat. Tatapannya kosong, dia tidak fokus dengan apapun kecuali satu. Pikirannya melayang-layang. Memikirkan sesuatu yang mungkin menjadi bencana dalam hidupnya.

Saat dia berada di rumah, dia merasa tidak nyaman. Setiap kali ayahnya dan ibunya sedang berada dirumah tidak henti-hentinya mereka bertengkar. Bahkan seringkalinya terjadi KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga). Barang-barang berserakan dimana-mana, yang menjadikan rumahnya bagaikan kapal pecah. Suara mereka saat sedang ribut bagaikan suara suporter pendukung sepakbola. Saat – saat seperti itu Glary selalu mengigatkan agar ayahnya dan ibunya berhenti bertengkar, bahkan Glary sempat teriak-teriak agar orang tuanya mendengarnya, tetapi yang ada Glary dimarahin habis-habisan oleh orangtunya.

“Anak kecil gak usah ikut campur urusan orang dewasa , udah sana masuk kamar” ucapan ayahnya suatu hari saat Glary mengingatkan ayahnya agar berhenti menampar ibunya.

Glary tetap bersikeras untuk melerai orang tuanya. Tapi apa daya Glary kena pukul oleh ayahnya. Beberapa kali Glary melakukan peleraian tersebut, alasannya adalah karena Glary enggak tahan lagi untuk mendengarkan celotehan antara kedua orangtuanya itu, dan Glary juga menginginkan keluarga yang bahagia sakinah mawadah warohmah, tetapi beberapa kali juga Glary kena pukul oleh ayahnya. Glary sempat berpikir untuk kabur, tapi bingung mau pergi kemana. Dia juga tidak punya siapa-siapa di dunia ini kecuali ayah dan ibunya.

Glary adalah anak tunggal, tidak punya kakak maupun adik. Sekitar dua bulan yang lalu, dia kehilangan adiknya. Dikarenakan ibunya yang sedang hamil besar dan yang selalu ingin bekerja. Walaupun ayahnya Glary sudah melarangnya tapi ibunya tetap ngotot untuk bekerja. Karena rasa sayang ayah Glary kepada istrinya, sehingga ayahnya tidak ingin memaksa kehendaknya. Dan pada waktu siang ibunya sangat kecapean, dan kecapean ibu Glary yang sangat itu, berpengaruh besar terhadap bayi yang di kandungnya. Dan saat itulah ibunya mengalami pendarahan yang sangat banyak dan akhirnya bayi yang dikandungnya tidak dapat diselamatkan atau kejadia ini biasa disebut keguguran. Dan setelah itulah ayah dan ibu Glary selalu bertengkar bagaikan tikus dan kucing.

Ayah dan ibunya tidak menghiraukan Glary, Glary selalu dianggap anak kecil yang tak tahu apa-apa tetang masalah orang dewasa. Orang tua Glary hanya mengurus dirinya masing-masing. Sebenarnya Glary bukanlah anak dari ayahnya. Ibu Glary hamil dan tak tahu yang menghamilinya siapa. Ibu dan ayahnya Glary menikah karena balas budi orang tuanya di masa lalu. Ayah Glary tahu bahwa istrinya tengah mengandung saat itu. Tapi saat itu ayah Glary sudah terlanjut sangat menyukai, menyayangi dan mencintai ibu Glary melebihi apapun. Tapi semuanya berubah seratus delapan puluh derajat celcius, setelah ibu Glary keguguran. Mengenai ayah biologis Glary yang tak tahu siapa, tentang semua itu Glary tahu, tapi Glary hanya diam pura-pura tidak tahu.

Glary muak dengan semua itu, suara berisik, menangis, barang dimana-mana. Glary merasa bahwa dia bagaikan hidup dineraka. Glary merasa hidup sendirian di dunia ini, dan semua itu membuatnya putus harapan untuk hidup. Tapi karena adanya Green yang selalu memberikan semangat untuk Glary, dan membuat hidup Glary mnjadi lebih berwarna. Green adalah pacar Glary yang sekaligus menjadi motivasi Glary untuk tetap menjalani hidup ini.

“ Kamu ngapain disitu Glar ? “ ucap Gleen sambil menepuk bahu Glary.

“Eh eh”, suara Green mengagetkan Glary yang sedang melamun.

“Ayo Glar masuk, udah malem, anginnya kencang-kencang lagi” ucap Green dengan penuh harap agar Glary mau masuk, sambil menarik tangan Glary dengan lembut. Tetapi Glary melepaskan pegangan tangan Green.

“Green kamu ngapain disini?”. Tanya Glary heran.

“ Aku khawatir sama kamu, aku mikirin kamu terus, lalu aku kesini.”

“Kamu ngapain sih peduli banget sama aku, paling sebentar lagi aku mati.”

“Sttttt, jangan ngomong kaya gitu. Ini yang membuatku khawatir sama kamu pesek.” Sambil mencubit lembut hidung glary yang sedikit macung ke dalam.

“Aku kan tadi tanya, ngapain sih peduli banget sama aku?” 

“Glary sayang, aku kan pacar kamu. Jadi sudah sepantasnya dong aku peduli sama kamu. Aku sayang kamu Glar. Sayang banget.” Ucap Green dengan memasang wajah gantengnya yang luar biasa dahsyat nya itu.

“Tapi Grenn? Kamu sebaiknya pulang deh. Udah malem sayang,nanti kamu sakit.” Glary yang menyuruh green untuk pulang karena dia juga sangat sayang sama Green, dan dia enggak mau kalau Green sakit. Karena tubuh Green tidak tahan dengan angin malam. Green selalu menggigil kalau malam hari keluar.

“Eh kamu yang seharusnya masuk. Gadis cantik kalau malam malam berada di luar enggak baik tau”.

“Siapa peduli”.

“ Glary sayang. Aku peduli sama kamu. Kamu enggak sadar ya?”

“Iya iya aku sadar Green. Tapi kamu gak seharusnya kaya gitu. Aku enggak pantes dipeduliin sama kamu Green.” Ucap Glary setengah terisak.

“Kenapa enggak pantas Glar? Aku ikhlas kok. Aku sayang kamu.”

“Green kamu sebaiknya pulang aja. Udah malem”. Perintah Glary mencoba mengalihkan pembicaraan. Glary juga sayang banget sama Green. Tapi Glary sadar bahwa dirinya tidak pantas untuk Green.

“Aku mau pulang, kalau bidadariku ini udah masuk ke rumah.” Sambil mencubit pipi Glary.

“ Iya iya aku masuk nie. Kamu pulang sana” Ucap Glary sambil berdiri.

“ Iya oke. See you sayang,” sambil mencium kening Glary.

“See you too, sayang”.

Green pulang dengan mobil avansanya yang berwarna silver. Begitu pula dengan Glary, dia masuk ke rumah. Masih dengan tatapan yang kosong. Dia memikirkan sesuatu yang mungkin menjadi jalan keluar untuk semua masalah hidupnya.

Glary masuk kamar, duduk dengan tatapan kosong. Selanjutnya dia mencari sesuatu, setelah mencari kesana kemari. Lalu ia menemukan barang yang di carinya itu dan duduklah Glary di lantai dapur. Dan dengan sigap ia goreskan barang itu ke tangan Glary yang mungil. Sehingga terjadi pendarahan yang hebat, darah terus mengucur keluar darri tangan Glary, hingga Glary kehabisan darah dan tak sadarkan diri.

Beberapa saat itu ayah dan ibunya pulang dan kaget melihat darah yang begitu banyak dan anak satu satunya itu terkapar tak berdaya dilantai dapur yang kebetulan bersebelahan dengan ruang tamu. Lalu mereka langsung membawa Glary ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, glary langsung di bawa ke UGD.

Ayah dan ibunya menunggu diluar dengan perasaan gelisah. Dokterpun keluar dari ruangan.

“Bagaimana dok keadaan anak saya” ucap ayah Glary dengan nada ceams, khawatir.

“Maaf pak bu”.

“Apa yang terjadi dengan anak saya pak?” ucap ibunya yang sedikit terisak dan tanpa dia sadari tetesan air matanya jatuh untuk anaknya.

“Dengan berat hati saya mengatakan bahwa putri bapak dan ibu tidak bisa di selamatkan. Karena dia sudah kehabisan banyak darah, yang sabar ya pak bu. Saya ikut berdukak cita.”

Setelah dokter berbicara, dia langsung pergi. Mendengar ucapan dokter tadi ayah dan ibunya langsung masuk ke ruangan dan melihat anak semata wayangnya terbaring dengan sudah ditutupi kain putih. Ayah dan ibunya tidak percaya dengan semua takdir anaknya itu. Apa yang telah mereka lakukan, menyia-nyiakan putri satu-satunya. Membiarkan dia bunuh diri. Betapa menyesalnya mereka berdua.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membumi

Kau

masih tentangmu